Awal minggu ini kita dihebohkan dengan cerita tentang hamilnya seorang influencer ternama. Dia cantik, baik, kaya raya dan jadi impian jutaan wanita dan pria pengguna media sosial. Menurut saya dia punya skin tone goals, face goals dan body goal. Lengkaplah pokoknya. Circle nya juga sesama influencer yang sudah punya jutaan pengikut.

Tiba-tiba dia hadir di podcast, mengatakan kalau sedang hamil tapi memutuskan tidak mau menikah karena nggak yakin dengan pasangannya. Mereka berdua sudah sepakat ‘putus baik-baik’. Tapi dia juga cerita bahwa bapak dari anaknya menjelekkan dan mengancamnya walaupun di WA grup yang tidak ada dia disana.

Seketika media sosial ramai, netizen +62 terbagi pendapatnya: ada yang memberi dukungan penuh karena kasihan, mengutuk pihak laki-lakinya dan ada yang berpendapat bahwa yang dilakukan perempuan ini adalah hasil perbuatan negatifnya sendiri sehingga tidak boleh dinormalisasi.

Di media sosial ‘jarang’ ada pihak yang netral karena satu ciri netizen Indonesia adalah menentukan keberpihakan netizen lain, contoh kalau kita memberi kritik pada selebgram A bisa-bisa kita diserang oleh fans si A dan kita dianggap hater si A oleh mereka. Dunia per-fans-an di media sosial memang luar biasa riuh. Biasanya kondisi ini akan dimanfaatkan dengan baik oleh fans ‘yang cerdik’ yang justru akan mencari follower, misalnya dengan membuat akun fanbase yang dapat menjadi rujukan netizen lain/fans lain untuk bergabung. Banyak yang sering terkecoh mengikuti akun fanbase, dikiranya itu akun si artis karena semua foto dan caption sama seperti akun artisnya. Nah kalau followernya sudah banyak, akun tersebut akan dijual kepada orang lain dengan iming-iming follower yang sudah banyak itu. Semakin banyak followernya semakin mahal harganya. Malah kadang-kadang yang bikin fanbase bukan fans beneran. Dia hanya orang yang pandai melihat peluang: memanfaat euforia netizen terhadap selebgram/artis tertentu. Hal ini berlaku untuk semua orang yang terkenal di media sosial, bukan hanya selebgram atau artis tapi juga influencer. Istilah yang baru terkenal belakangan ini.

Influencer adalah seseorang dengan pengikut online yang signifikan di platform media sosial yang dapat memengaruhi opini dan perilaku audiens mereka berkat otoritas, pengetahuan, atau posisi mereka dalam niche tertentu. Mereka sering bermitra dengan merek untuk mempromosikan produk atau layanan kepada pengikut mereka, memanfaatkan kredibilitas dan jangkauan mereka.

Itu kurang lebih terjemahan bebas dari arti influencer menurut AI. Intinya seorang influencer itu perannya penting karena dapat memengaruhi opini dan perilaku pengikutnya. Dan sebagai influencer pengikutnya pasti bukan hanya seribu dua ribu, tapi mencapai jutaan orang. Biasanya juga mereka tidak berdiri sendiri, mereka bergaul dan berteman dengan influencer lain yang memiliki jutaan follower juga. Kebayang nggak betapa powerfull-nya mereka dalam memengaruhi cara pikir dan perilaku masyarakat dunia maya di Indonesia? Saking powerfull nya, mereka bahkan dilibatkan oleh kontestan pilpres beberapa tahun belakangan ini! Mimpi apa ‘main media sosial’ bisa dianggap orang penting di negara ini 🙂

Sebenarnya kalau dilihat secara positif, mereka bisa digunakan sebagai kekuatan kesekian yang kita miliki untuk menyebarkan dan menularkan hal baik. Tapi masalahnya tidak semua influencer merasa punya tanggung jawab untuk menyebarkan kebaikan. Sisanya merasa harus menciptakan trend dan keasikan sendiri, pokoknya keliatan asik walaupun asik sendiri. Mabok, merokok didepan kamera, bahas hal berbau sensual dan seksual secara terang-terangan, mengumpat sampai melakukan hal-hal tabu di depan kamera dianggap sebagai bentuk “ini gua, lo mau apa? kalau nggak suka unfollow aja”. Parahnya mereka tahu pasti bahwa yang seperti ini hanya mengundang reaksi negatif di awal saja, setelahnya akan muncul pendukung-pendukung yang membela dan bilang : setidaknya dia nggak munafik..setidaknya dia sudah jujur..bla bla bla..

Termasuk ketika influencer mengakui menyesal karena sudah hamil diluar nikah. Banyak pendukungnya dengan alasan: setidaknya dia sudah jujur, woman support woman dan ibu hamil harus dijaga kesehatan mentalnya. Parahnya (menurut saya) influencer bumil ini jadi seperti ratu sekarang, semua perhatian dan kasih sayang netizen tertuju padanya, dan hujatan tertuju pada mantan pacar yang diduga sebagai ayah dari anak yang dikandung dan teman-temannya. Perang circle influencer pun terjadi, teman-teman mereka dengan jutaan follower muncul membela masing-masing pihak. Akhirnya pembahasannya bukan tentang hamil di luar nikah yang selama ini menjadi hal tabu, melainkan tentang kenapa bapaknya nggak tanggung jawab dan malah memberi ancaman kepada influencer bumil itu.

Dengan tidak mengurangi semangat woman support woman ya 🙂 Tapi terbayangkah apa yang tertanam di benak follower jutaan follower itu? Ya kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan influencer yang diikutinya. Sebagai seorang teman, nggak mungkin teman influencer ini menyalahkan temannya secara terbuka kan? Yang ditampakkan pastilah dukungan, pelukan hangat dan narasi bahwa semuanya oke, baik dan karirnya ini akan menjadi lebih besar setelah ini. Secara nggak langsung influencer-influencer itu sudah berhasil menggeser fokus perhatian dan lebih jauh lagi mereka berhasil menggeser ‘nilai’ yang tumbuh di masyarakat selama ini.

Dilansir dari https://www.rri.co.id/iptek/721570/ini-data-statistik-penggunaan-media-sosial-masyarakat-indonesia-tahun-2024 pengguna media sosial didominasi oleh usia 18-34 tahun (54,1%), dengan jenis kelamin perempuan (51,3%) sementara laki-laki (48,7%) dari total Pengguna media sosial di 2024 sebesar 191 juta pengguna (73,7% dari populasi). Youtube memiliki 139 juta pengguna (53,8% dari populasi),Instagram : 122 juta pengguna (47,3% dari populasi) dan  Tiktok : 89 juta pengguna (34,7% dari populasi). Frekuensi penggunaan masyarakat indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 14 menit per hari dan 81% mengaksesnya setiap hari. Jumlah dan waktu yang cukup untuk membuat gerakan di media sosial, apalagi ‘hanya sekedar’ membentuk opini dan mengubah cara pikir.

Semoga ada yang aware tentang potensi (atau bahaya laten?) ini. Calon generasi emas harus diarahkan, diberi batasan termasuk tentang paparan yang diterimanya di media sosial. Influencer harus disesuaikan dengan nilai yang hidup di masyarakat selama ini dan bukan membentuk nilai sendiri.

Mereka harus diberikan tanggung jawab untuk memberi contoh baik. Atau dinyatakan tidak baik untuk dicontoh. Mereka tidak boleh hanya berusaha mendapatkan kekayaan dari pengguna media sosial di Indonesia tapi tidak mau menjaga nilai Indonesia-nya.

Pemerintah dan para legislator harusnya sudah mulai berpikir tentang aturan khusus tentang penggunaan media sosial. Bagaimanapun media sosial menguasai 73 % populasi di Indonesia. Pengguna media sosial adalah masyarakat kita juga yang hidup dan tumbuh dalam bentuk yang berbeda. Di media sosial yang bermasyarakat bukanlah tubuh melainkan pikiran dan perasaan kita. Tapi bukankah pikiran lebih berbahaya daripada tubuh manusia? Bahkan manusia bisa mengubah hidupnya dengan mengubah cara pikirnya..

Bagaimana kalau dikembalikan ke masing-masing pengguna untuk memililah dan memilih nilai baik dari influencer dan membuang yang tidak baik? Menurut data UNESCO, indeks literasi Indonesia pada tahun 2023 hanya berada di angka 0,001%, artinya hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca. Hal ini diperparah dengan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang menunjukkan bahwa generasi Z menghabiskan rata-rata 8 jam 42 menit per hari untuk mengakses internet, namun hanya 8 menit untuk membaca! Bagaimana paham konteks kalau tidak suka baca text?:’) https://www.kompasiana.com/kharismaputri0593/6629a292c57afb38bf2f1c92/menurunnya-tingkat-literasi-di-kalangan-generasi-z-indonesia

Selain itu, pemerintah belum membuat aturan tentang batasan anak bermain media sosial. Banyak bocil yang bisa mengakses media sosial. Bisakah kita minta mereka memilih sendiri informasi yang baik dan yang tidak untuk mereka?

Semoga secepatnya ada langkah konkret yang membatasi hal-hal ‘negatif’ beredar di media sosial. Bukan hanya tentang politik dan asusila tapi juga tentang nilai dan norma. Kebayang nggak kalau media sosial hanya berisi hal-hal yang baik sesuai dengan nilai yang ada di masyarakat kita, sehingga saat menghabiskan 3 jam setiap hari (durasi rata-rata mengakses media sosial) yang tertanam di pikiran kita juga hal yang baik? :’)

ditulis oleh

NF

orang yang sedang belajar menulis bebas dengan modal senang berbagi. Berharap semoga blog ini bisa jadi sarana cerita,berita dan berbagi ilmu baik tentang hukum, komunikasi, parenting, motherhood dan semua yang penting untuk dibagi :)