Jadi ceritanya saya punya teman. Teman sepermainan, plus seperjuangan 🙂 kebetulan kami telah menyelesaikan pendidikan yang setara. Dan kebetulan kami ‘mengembangkan diri’ di tempat yang sama, bedanya dia lebih lama dan pernah menjadi yang posisi paling tinggi pada divisinya.
Dulu saya mengenalnya sebagai orang yang menyenangkan, yang suka bercanda walaupun sejujurnya tempat kami sedang tidak baik-baik saja. Situasi yang tidak kondusif ditambah harus melalui masa pandemi memang membuat kami tertekan. Selama masa itu, saya lihat dia berubah menjadi sosok yang berbeda. Dia mulai bisa mengirim pesan yang menyindir bebrapa orang, sampai yang terang-terangan ‘mengancam’ walaupun tidak menyebut nama secara terang-terangan. Tapi bukan hanya dia, beberapa teman kami juga melakukannya sehingga saya berpikir mereka juga sedang memperjuangkan nasib teman-temannya.
Hingga masa pandemi (akhirnya) usai disertai perubahan besar-besaran di tempat kami hingga penyesuaian dengan keadaan baru yang terasa sedang berusaha menuju ke arah yang lebih baik. Banyak yang bersyukur walaupun hanya tentang kemajuan yang sederhana: pembayaran hak yang tepat waktu misalnya. Tapi saya dengar banyak tempat juga mengalami kesulitan yang sama selama pandemi kemarin. Sayangnya, alih-alih ikut bersyukur, sepertinya teman saya itu masih punya sejuta alasan untuk tetap merasa tidak puas. Dia bahkan masih melakukan hal yang sama seperti saat pandemi: berkeluh kesah, menyindir sampai mengancam di grup whatsapp. Saya yang biasa aja awalnya jadi capek sendiri bacanya.. *_*
Untuk bilang bahwa dia mencari perhatian tentu bukan lagi masanya. Mungkin dia memang merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, mungkin dia memang merasa spek-nya terlalu tinggi untuk tempat sekarang, mungkin dia merasa kurang bisa mengepakkan sayap lebar-lebar di tempat kami.
Tapi pernah dengar nggak kalimat: Jangan kotori piring tempat makan kita, karena kita makan menggunakan piring itu, kalau dia kotor maka makanan kita pun akan ikut kotor..
Hal ini sepertinya pas menggambarkan situasi ini. Apa enaknya kita membenci tempat kita sekarang kalau faktanya selama ini kita hidup disini? Pun kalau seandainya kita punya tempat baru nanti. Kita pasti akan menemukan alasan untuk mengeluh lagi. Tidak selalu karena lingkungannya, tapi mungkin karena mindset-nya. Bukankah kalau semua makanan terasa pahit di lidah bisa jadi yang bermasalah bukan makanannya? 🙂
Btw semoga dia menemukan tempat yang lebih bisa mengakomodir keinginannya ya.
Saya percaya bahwa seorang yang suka mengeluh akan dihadapkan banyak hal untuk dia keluhkan. Seorang yang suka bersyukur juga akan dihadapkan banyak hal untuk disyukurinya. Menurut saya itu semacam ‘hukum alam’. Dalam buku the law of attraction juga disebutkan bahwa pikiran kita terlalu kuat untuk bisa ‘memanggil’ semua kejadian. Kalau berpikir buruk maka hal buruk yang akan terjadi. Sama halnya dengan sugesti orang kejatuhan cicak yang konon artinya akan menghadapi masalah. Begitu kejatuhan cicak, eh beneran masalah datang. Bukan karena cicaknya tapi karena rasa was-was akan terjadi masalah yang membuat masalah beneran datang.
Lalu kenapa kita nggak belajar berpikir di sisi yang berbeda saja?
Belajar dari orang Jawa, kalau nggak pakai kata “untung” ya “slamet”. Ada kecelakaan, untung masing bisa dipakai kendaraannya. Kalau hape jatuh sampai rusak, slamet kemarin sudah dimasukkan whatsapp di laptop jadi masih bisa menyimpan chat penting, dan banyak contoh lainnya. Pokoknya kalau buat orang Jawa, dalam setiap kejadian selalu ada hal yang harus tetap disyukuri. Karena sejatinya nggak ada hal yang absolut di dunia ini, semua hanya sekadarnya dan sementara. Jadi kenapa kita nggak belajar untuk bereaksi sekadarnya dan berpikir bahwa semua hal yang membuat kita marah itu hanya sementara?
Justru reaksi kita yang membuat hal tidak menyenangkan bertahan lama. Karena reaksi itu akan tertanam di pikiran. Artinya sekali kita bereaksi maka kita harus keukeuh bertahan atas reaksi itu daripada dibilang nggak konsisten. Jadi kita akan block pikiran kita bahwa hal itu akan bertahan selama mungkin setidaknya sampai orang-orang lupa reaksi kita kemarin. Itu nggak enaknya bersikap terlalu reaktif.
Tapi kita juga tidak bisa menghakimi orang yang mudah atau bahkan terlihat berlebihan dalam bereaksi. Kita tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Bisa jadi karena hal yang sedang dia hadapi membangkitkan trauma masa kecilnya lagi. Atau jangan-jangan reaksinya ini adalah luapan emosi atas beban yang dia tanggung selama ini?
Saya pun jadi ingat kalimat “whatever you think, just think the opposite”. Kalimat ini saya pegang sampai hari ini, untuk menahan diri, untuk paham kondisi dan untuk pegangan saya sebelum memberikan reaksi. Apapun yang dihadapi dan pikirkan saat ini, segeralah untuk berpikir sebaliknya. Ini juga yang saya gunakan untuk memaklumi teman saya. Walaupun jengah melihat caranya, tapi mungkin dia punya alasan pribadi mengapa memilih keras dalam bereaksi. Bisa jadi dia begitu karena tekanan keadaan di rumah, bisa jadi karena selama ini merasa dirinya kurang diapresiasi dan banyak kemungkinan lainnya. Anjuran untuk berpikir sebaliknya menurut saya berseberangan dengan kalimat “tidak ada asap kalau tidak ada api” dalam menjelaskan tentang reaksi teman yang saya ceritakan diatas. Karena asap bukan hanya berasal dari api, bisa saja dari smoke machine, atau jangan-jangan yang kita liat bukan kebakaran tapi hanya orang yang sedang membunuh jentik nyamuk 🙂
Think ‘both side story’ is the key, not always about the whole story, but it’s because everybody has their own ‘hisstory’.. 🙂

Bisa aja asapnya dari orang lagi ngevape
nah itu juga bisa 😀
Iya, asak gak vape fumakila aja
siapa sih marketingnya Vape? brandingnya berhasil, sampai disebut lengkap merknya gini *sambil tepuktangan
Nah itu aku kurang tau… wkwkwkwk